Cerpen Rumpang "Menjemput Masa Depan"

 

SARKAT DAY 1

Tema               : Covid 19

Nama Penulis : Nur Faridatul Khasanah

Genre              : Novel

Judul               : Menjemput Masa Depan

Sarkat Day 1, 7/8/2020

Kilau kuning keemasan menyilaukan mata seorang laki- laki dewasa yang duduk asyik di pematang sawah tepi sebuah desa. Rupanya sang surya sudah bangun dari peraduan tidur malamnya. Sorot sinarnya yang indah memancar keseluruh jagad raya. Senyum sang  surya yang kemilau  memberi kabar bahwa hari ini penghuni alam bak hidup di surga. Karena dengan kemunculannya akan memberikan penghidupan untuk jangka yang tidak bisa ditentukan. Arman, seorang lelaki dewasa yang duduk di pematang sawah tersebut beberapa kali menyiutkan kelopak mata berusaha untuk  bisa memandang asal sinar dengan sempurna. Tapi lagi- lagi merasa silau dan segera menutup matanya. Pandangannya ia alihkan ke hamparan sawah yang ada di depannya. Bak hamparan permadani yang telah usang bertotol-totol, permukaan sawah  yang kelihatan telah lama tidak tersiram air surga. Gersang...dan kering... Beberapa kali Arman menghela nafas. Ia pandangi sepetak tanah  peninggalan ayahnya yang kering karena tidak ada yang mengurus. Rumput liar banyak bermunculan disela- sela tanah yang bengkah. Arman berkata dalam hati, seandainya aku tidak bersikeras ke kota untuk mengadu nasib sawah ini akan dengan terpaksa aku kerjakan, mungkin bapak masih selamat petaka yang terjadi di sawah ini. Bapak maafkan anakmu yang tak bisa menjaga bapak dan meninggalkan bapak sendirian di kampung ini. Tak terasa air bening menetes dari pelupuk mata Arman. Nasi telah menjadi bubur, penyesalan datang setelah kejadian. Arman menyesal dan merasa bersalah. Peristiwa yang menyedihkan silih berganti menimpanya semenjak Arman hijrah ke kota metropolitan atas ajakan teman-temannya yang lebih dulu mengadu nasib di kota. Arman tidak menuruti nasehat bapaknya untuk tetap tinggal di desa. Sang surya mulai naik merangkak meniti cakrawala. Arman masih tetap enggan beranjak dari duduknya. Sebagai anak semata wayang Arman sadar bahwa ia yang bertanggung jawab penuh atas peninggalan ayahnya. Sebidang tanah  didesa lainnya yang telah dijual untuk bekal ke kota habis tiada tersisa. Tinggal sepetak sawah yang ada di depannya, yang menjadi tumpuan harapannya untuk menyambung hidupnya. Penyesalan kembali menggelayuti pikiran Arman yang hidup sebatang kara. Bapaaak...suara lirih Arman. Sinar sang surya semakin terang. Jagad seisinya menyambut dengan suka ria. Burung emprit mulai terbang kesana kemari mengitari padi yang akan dijadikan sasaran hidangan makan pagi bersama keluarga.

Sarkat Day 2, 8/8/200

Sinar sang surya semakin terang. Hamparan sawah yang luas semakin jelas. Sentuhan hangat sinar sang surya menembus baju tipis yang melekat dibadan Arman. Dengan malas Arman beranjak dari duduknya, langkah  gontai Arman menapaki pematang dihadapannya. Hari ini betul-betul Arman merasakan kesepian. Orang tua telah berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa, saudara tiada punya, sanak saudara nun jauh disana. Seorang wanita setengah baya memanggil Arman. Bu Midah, tetangga sebelah rumah Arman

“Arman...!”, teriak Bu Midah.

Arman menoleh kearah suara dan tersenyum tipis kepada Bu Midah. Tergopoh-gopoh Bu Midah menghampiri Arman.

“Nak Arman, kapan pulangnya?. Kok Ibu tidak tahu...?”

“Kemarin Bu...ada kabar baru apa di kampung bu?”

“Tidak ada yang istimewa nak...kapan kamu kembali ke kota?

Arman hanya diam, ia tundukkan kepalanya. Arman teringat semua yang menimpanya. Sangat sulit untuk berkata, Arman hanya diam, diam, dan diam. Arman berusaha agar bulir bening tidak menetes disudut matanya. Bu Midah ikut diam, seakan ikut merasakan apa yang menimpa keluarga Arman. Bu Midah tidak mengulang pertanyaannya. Akhirnya bu Midah mengajak Arman untuk pulang.

“Nak Arman... mari pulang!”

“Silakan bu Midah, saya ingin di sini dulu... lama tidak melihat sawah peninggalan bapak”

“O ya sudah, bu Midah duluan ya?. Main ke rumah kalau sudah pulang”

“Ya bu, terima kasih”.

Bu Midah memandang iba pada Arman, sebelum meninggalkan Arman sendirian. Arman terus menyusuri pematang sawah yang kering.

Di sebuah gubug sawah yang reyot, Arman menghentikan langkahnya. Arman teringat disitu masa kecilnya yang sangat bahagia. Bersama keluarganya ketika makan bersama. Duduk bersila beralas tikar daun pandan buatan ibunya. Lauk sederhana namun nikmat terasa. Tempat istirahat saat lelah menggarap sawah. Arman mulai tak kuasa menahan air matanya. Arman bersimpuh, ia sandarkan punggungnya di dinding bambu yang sudah mulai berlubang disana sini. Arman mulai mengingat kejadian demi kejadian yang menimpa dirinya. Bisnisnya yang gagal, ayahnya yang meninggal sangat mengenaskan di sawah ketika mencangkul, kakak yang entah dimana, ibu yang meninggal karena memikirkan kakak, adik yang telah tiada, serta calon istri yang terkena covid dan akhirnya meninggalkan selamanya. Teman-temannya yang mulai menjauhkan diri karena tiada uang lagi. Seakan lengkap sudah ujian yang diberikan Allah padanya.

Arman mengingat-ingat pesan guru ngajinya dulu. Beliau selalu mengatakan yang diambil dari kitab suci Al-quran bahwa “Allah tidak akan menguji hambanya melampaui batas kemampuannya”, dan beliau juga mengatakan sesuai dengan kandungan Al-quran bahwa “Allah bersama orang yang sabar”. Dari situlah kekuatan dan semangat Arman bangkit.

Sarkat Day 3, 09/08/2020

Sambil menghimpun kekuatan yang masih tersisa, kembali Arman mengingat satu persatu keluarga yang telah lebih dulu meninggalkannya. Kakak perempuan satu-satunya telah tiada. Kakak yang menimba ilmu diseberang pulau tak diketahui dimana rimbanya. Diperkirakan badai tsunami telah menelannya ke dasar laut. Ibunya sakit-sakitan karena memikir kakak yang tak kunjung pulang. Adiknya yang baru duduk di kelas satu Sekolah Dasar juga lebih dulu meninggalkannya. Setiap hari adik harus pulang pergi ke sekolah sendirian karena tiada yang mengantar. Dihari yang naas adik tertabrak kendaraan ketika terburu-buru berangkat sekolah. Karena kurang memperhatikan keramaian jalan adik menyabrang seenakknya. Seorang siswa Sekolah Menengah Atas mengendarai sepedanya dengan kencang. Tubuh mungil adik  tertabarak dan terpental beberapa meter. Seketika itu pula adik meregangkan nyawa. Arman histeris dan syok mendengar kabar tentang adiknya.  Arman  sendiri saat itu masih duduk dibangku Sekolah Menegah Pertama. Sekolah yang agak jauh, Arman harus berangkat pagi-pagi. Sehingga adik harus mengurus dirinya sendiri. Bapak sibuk dipasar. Bapak  meneruskan berjualan barang kebutuhan sehari-hari. Kios pasar  peninggalan ibu sumber utama keuangan keluarga selain beberapa petak sawah warisan eyangnya. Sebelum subuh bapak sudah harus pergi ke pasar. Sampai disitu Arman kembali limbung.  Arman menangis sejadi-jadinya. Arman ingat bapaknya. Bapak yang telah menemani dengan setia sampai ia bisa bekerja. Banting tulang bapak mencari nafkah untuk membiayai kuliahnya. Bapak yang menaruh harapan besar kepada dirinya. “Bapaaaaak......!”, Arman berteriak sekencang-kencangnya. Gubug reyot itu sampai bergetar. Burung emprit yang sedang asyik sarapan bersama handai taulan terkejut  hebat. Sontak mereka terbang dengan kencang. Arman meratapi dirinya. Lagi-lagi hidup mujur belum menghampirinya. Calon istri yang diidamkan, menjadi korban keganasan wabah yang sedang melanda.  Covid 19 merenggut kebahagiaanya. Calon istri yang sangat ia cintai  akhirnya meninggalkan untuk selamanya. Jantung Arman terasa sakit. Denyutnya semakin cepat. Napasnya tersengal-sengal. Pandangan matanya seakan kabur. Arman  meratapi dirinya.  Arman merasa hidup sendirian di dunia fana ini. Arman kembali menangis sejadi-jadinya.  Beberapa burung emprit hinggap dipinggir gubug reyot itu. Burung emprit memandang iba pada Arman. Semuanya diam, hanya suara kepakan sayapnya yang kecil mengiringi tangis Arman.  Burung emprit seakan tahu kesedihan yang dialami Arman. Entah berapa lama Arman menangis memikirkan kehidupannya.  Antara ikhlas dan tidak menerima takdir-Nya.

Sang surya merangkak tinggi menapaki tangga cakrawala. Sinarnya yang terang membuat udara panas di sawah yang gersang.   Setelah lama menagis Arman merasa sangat lelah. Akhirnya Arman tertidur pulas di gubug reyot itu. Gubug yang menyimpan sejuta kenangan  bahagia bersama keluarganya.

 

Sarkat Day 4, 10/08/2020

Sang surya duduk disinggasana yang paling tinggi. Dengan kekuasaan yang anggun sang surya menyapa lembut kepada hamba-Nya yang sedang lara. Dari celah-celah genting, sinar sang surya mengenai tepat dipelupuk mata Arman yang masih tertutup rapat. Arman perlahan-lahan bangun dari tidurnya. Ia kucek matanya yang masih enggan terbuka penuh. Arman memandang sekeliling gubug reyot itu. Tiba-tiba menyembul kepala kecil bundar oval dari balik alas gubug yang sudah robek sana sini. Arman spontan berdiri. Kepala kecil itu malah semakin mendongak untuk lebih leluasa memandang Arman yang terkejut. Perlahan-lahan Arman mendekati kepala kecil itu yang ternyata adalah kepala ular yang bisanya cukup berbahaya. Dalam hati Arman bersyukur  karena tidak digigit ular itu saat tertidur pulas. Perlahan Arman mengusir ular tersebut. Ularpun pergi menjauh, dan Arman kembali duduk untuk menenangkan hatinya yang baru saja dikejutkan oleh kedatangan ular tadi.

Sudah lama Arman masih terduduk lesu. Arman masih belum bisa sepenuhnya menanggung lara yang bertubi-tubi. Rasa sesal dan salah menghantuinya. Menyesal karena tidak mendengar nasehat ayahnya, untuk tidak pergi ke kota. Bersalah karena telah menghabiskan uang hasil penjualan sawah ayahnya. Uang yang tidak sedikit akhirnya ludes karena usaha yang dirintisnya bangkrut. Ulah teman bisnisnya yang tidak bertanggung jawab Temannya telah mengambil keputusan sepihak yang membuat usaha Arman kolab. Semua aset perusahaan disita oleh yang berwajib, ditambah tanggungan hutang di bank yang cukup banyak. Arman menghela nafas panjang. Ia rebahkan kembali badan yang Arman di atas tikar yang kumal tersebut. Krucuk...krucuk...krucuk perut Arman melantunkan irama khas sebagai tanda perut harus segera diisi. Arman masih malas untuk beranjak dari gubug reyot itu. Ia pegangi perutnya untuk mengurangi rasa lapar yang melanda.

Sreeet....sreeet...sreeeet....terdengar langkah kaki mendekati gubuk. Pak Ali, lelaki yang usianya sepantaran  dengan ayahnya almarhum menghampiri gubug Arman. Pak Ali adalah ketua RT di kampungnya. Beliau longokkan kepala ke dalam gubug. Senyum tipis di wajah pak Ali ketika melihat Arman di dalam gubug.

“Assalamualaikum, nak Arman”, sapa pak Ali

‘Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakaatuh, pak Ali....”, jawab Arman

“Silahkan duduk, pak Ali...”, Arman mempersilahkan pak Ali untuk duduk.

Pak Ali duduk berhadapan dengan Arman. Pak Ali, memandang langit-langit gubug reyot itu. Pak Ali takut kalau-kalau kejatuhan genting yang sudah banyak yang melesat kemana-mana.

“Selamat datang kembali ke desa yang kita cintai nak Arman..”, pak Ali membuka percakapan.

“Ya pak, terima kasih...lama saya tidak pulang, banyak kemajuan di desa ini. Banyak pabrik berdiri di pinggir desa. Perekonomian masyarakat meningkat, rumahnya bagus-bagus...” Arman memberi tanggapan tentang kemajuan desanya.

“Ya nak, banyak warga disini yang bekerja di pabrik-pabrik itu. Yang tidak menjadi buruh, berjualan dipinggir pabrik. Para penjual itu menyediakan barangt-barang kebutuhan pegawai pabrik. Nak Arman kapan kembali dari kota?, tanya pak Ali

“Sudah kemarin pak..” jawab Arman singkat.

“Oya...bagaimana kabar nak Arman? Bagaimana usahanya?” tanya pak Ali.

Sampai disitu Arman hanya diam dan menunduk. Beban berat hidupnya kembali melayang-layang dipelupuk matanya.

#KMOindonesia

#KMOBatch 25

#sarapan pagi

#day4

 

Sarkat Day 5, 11/08/2020

BAB 2 Motivasi Diri

 Sudah satu minggu Arman di desa, tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Arman masih bingung darimana akan memulai. Selama satu minggu Arman hanya duduk termenung antara limbung dan semangat  yang sedikit bangkit. Karena nasehat pak Ali seminggu yang lalu sangat mengena dihati.  Ibarat  lampu minyak  kehabisan bahan bakar, hampir padam. Allah mengirim malaikat lewat Pak Ali. Pak Ali yang mengingatkannya bahwa semua yang kita alami atas kehendak Allah Swt. Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang dapat mengendalikan emosinya sendiri. Orang yang bertakwa adalah orang yang dengan rela menerima semua ketentuan Allah Swt. Ikhlas menjalani kehidupan.  Perlahan Arman bangkit dari duduknya. Arman melangkah dengan berat. Armam membuka tirai jendela dan pintu.   Arman memandang setiap sudut ruangan rumahnya. Arman bergumam lirih “Ayah ibu aku akan jaga semuanya”

Hari semakin terik. Arman melangkahkan kaki keluar rumah. Arman berjalan ke sungai yang letaknya tidak jauh dari rumah. Sungai tempat bermain dengan teman-temannya ketika kecil. Tempat paling enjoy ketika penat  karena tugas sekolah yang banyak ketika itu. Ia pandangi air yang jernih dan mengalir dengan  lembut. Gemericik air membuat  Arman sedikit tenang. Arman menikmati setiap riak air didepannya. Arman berfikir bahwa kehidupan didunia memang seperti air sungai itu. Mengalir dengan sendirinya. Kadang tenang kadang beriak. Mengalir sesuai dengan takdirnya. Seperti jalan hidupnya sendiri. Saat ini yang sedang beriak hebat suatu hari nanti mungkin akan didapat ketenangan. Tiada fana didunia ini. Arman membangun harapan dalam hidupnya sedikit demi sedikit. Arman yakin akan takdir dan ikhtiar manusia. Tengah hari Arman pulang ke rumah. Pikiran lelah terpancar dari wajah yang kuyu. Langkahnya gontai seperti tak ada tenaga. Di jalan Arman melihat benda tipis tergeletak dipinggir jalan. Benda berwarna coklat itu ternyata sebuah dompet wanita. Arman menoleh kekanan dan kekiri. Dengan ragu-ragu Arman ambil dompet itu.  Perlahan Arman membuka dompet , untuk melihat isinya. Ternyata ada beberapa lembar uang ratusan dan kartu – kartu  penting, seperti KTP, ATM, SIM, dan lain – lain. Arman ambil KTP, ia baca pemiliknya. Ternyata rumahnya tidak jauh , masih satu kecamatan. Arman berniat akan mencari rumah pemilik dompet itu dan mengembalikannya. 

Sarkat Day 6, 12/08/2020

SARKAT DAY 6

#KMOindonesia

#KMOBatch 25

#sarapankata

#day6

Arman bergegas pulang, ia ingin segera mengembalikan dompet itu kepada pemiliknya.  Handuk di jemuran samping rumah langsung disambar. Arman mandi dengan semangatnya. Setelah mandi ia ambil air wudhu untuk mengerjakan salat dhuha. Dengan khusyuk Arman menjalankannya. Ia berdoa kepada Allah Swt. agar pintu rezeki Allah Swt. selalu terbuka lebar untuknya. Arman kenakan baju yang paling ia suka. Setelah selesai berbenah diri  Arman keluarkan kendaraan yang lama tidak terpakai. Ia starter kendaraan tersebut. Namun sudah beberapa starter kendaraan tersebut tidak mau hidup.  Melihat Arman kesulitan menghidupkan kendaraan, tetangga sebelah yaitu bu Midah mendekat.

“Mengapa kendaraannya nak Arman?”, tanya bu Midah

“Entah bu, mungkin karena lama tidak terpakai jadi ngadad businya” ,

“Memangnya nak Arman mau kemana?”,

“Mau mengembalikan dompet yang tadi aku temukan bu”,

“Dompet apa?”

“Dompet yang aku temukan dijalan dekat sungai.”

“Maaf, boleh aku lihat nak Arman dompetnya?”

“Iya bu, ni silahkan.”

Bu Midah menerima dompet itu dan memeriksa isinya. Bu Midah sepertinya tahu pemilik dompet itu. Tapi bu Midah hanya diam.

“Oooo, alamatnya di seberang sungai itu. Lumayan jauuh...! cantik lho nak Arman, pemilik dompetnya.”

Bu Midah menggoda Arman. Arman tersipu malu. Arman kembali fokus pada kendaraannya. Bu Midah masih asyik melihat Arman mengotak-atik kendaraannya. Arman membuka busi dan mencabutnya. Busi di bersihkan dengan kain kasa di dekatnya. Kemudian busi di pasang lagi. Ia starter lagi. Tetap tidak bisa hidup. Akhirnya bu Midah menawarkan kendaraanya.

“ Nak Arman pakai saja kendaraan ibu...kalau belum hidup”

“Sebentar saya otak atik lagi bu”

Setelah sekian lama, tidak berhasil menghidupkan kendaraannya. Arman menyerah. Arman akhirnya menerima tawaran bu Midah.

“Okelah bu, saya pinjam kendaraan ibu.”

“Baik, kuncinya di dalam. Saya ambil dulu ya...”

“Iya bu...terima kasih.”

Arman memasukkan kendaraannya ke dalam rumah. Kemudian Arman menutup dan mengunci pintu rumahnya. Bergegas Arman ke rumah bu Midah. untuk mengambil kendaraan yang dipinjamkan bu Midah.

“Saya berangkat dulu bu...”

“Ya nak, hati – hati di jalan”

“Ya b, terima kasih.”

            Sepeninggalan Arman bu Midah tersenyum tipis. Bu Midah tahu siapa sebenarnya pemilik dompet itu. Ada harapan yang terbersit di hati bu Midah untuk Arman.

 

Sarkat Day 7, 13/08/2020

SARKAT DAY 7

#KMOindonesia

#KMOBatch 25

#sarapan pagi

#day7

Perlahan-lahan Arman meninggalkan halaman bu Midah. Arman  kikuk menjalankan  motor. Sudah lama Arman tidak berkendara sepeda motor. Baru beberapa meter berjalan, Arman dikejutkan oleh panggilan seseorang.

“Arman......!” teriak orang itu dengan kencang.

Arman belum menoleh. Arman masih fokus pada motornya. Orang tersebut memanggil lagi.

“Armaaaan...!!, haiii...Armaaaan...!!!” panggil orang itu lebih kencang.

Arman kaget, ia menghentikan motornya  dengan tiba-tiba. Arman menoleh ke asal suara. Arman tidak kenal dengan orang yang memanggilnya. Orang tersebut memutar bailkkan motornya. Ia menghampiri Arman.

“Arman...apakah betul kau Arman? tanya orang itu.

“Iya...kamu siapa ya?” Arman balik tanya

“Arman, masak sih...kau lupa saya?”

“Betul aku tak ingat, kau siapa?”

“Diingat-ingat dulu, siapa saya...!”

Arman mengernyitkan dagu. Arman berusaha mengingat – ingat orang yang ada di depannya. Arman melihat orang tersebut dari kepala sampai ujung kaki. Arman betul-betul tidak ingat orang itu.

“Maaf, aku betul-betul tidak ingat. Siapakah dirimu?” Arman bertanya balik

“Ya Allah..., mengapa kau lupa padaku sobat?”

“Aku tadi sudah minta maaf.”

“Yaaa...mungkin karena kehidupan kota. Membuat kamu lupa teman di desa!”

Rasa kecewa terbersit di wajah orang itu. Arman hanya tersenyum tipis.

“Arman kamu ingat ketika turnamen basket di SMA Harapan?”

“Turnamen di SMA Harapan banyak, turnamen yang mana ya?”

“Arman..., kamu betul – betul tidak ingat?”

“Lha kan turnamen di SMA Harapan banyak, hampir tiap tahun basket di SMA Harapan.”

Orang itu tidak menyerah begitu saja. Ia menceritakan beberapa kegiatan yang telah dilakukan bersama Arman. Ia berusaha menggali ingatan Arman. Arman yang masih bingung hanya bisa mendengarkan cerita itu. Sesekali Arman manggut-manggut tak mengerti. Arman masih bertusaha mengingat – ingat kejadian di masa SMA. Arman membolak balikkan memori dalam ingatannya. Tidak satupun wajah orang di depannya ada dalam memori Arman. Arman menyimpulkan sendiri, bahwa orang yang di depannya adalah teman SMA.

Arman masih belum ingat. Arman berusaha mempercayai kata-kata orang itu. Peristiwa yang dialami di kota, membuat Arman lebih waspada. Arman tidak mudah percaya kepada orang yang belum ia kenal. Sikap baik belum tentu hati dan tujuannya baik.  Bukan berprasangka buruk, tapi hanya untuk hati-hati. Arman mengajak orang itu minggir, dan turun dari jalan raya. Masing – masing duduk di atas sadel motornya. Orang itu melanjutkan ceritanya. Arman dibuat penasaran.

“Arman...ingat ketika kakiku patah ketika turbamen basket di SMA Harapan?”

“Haaaa...!!! jadi kamu..?”

Arman mulai mengingat peristiwa itu. Arman sangat terkejut. Arman langsung memandang wajah orang di depannya.

Sarkat Day 8, 14/08/2020

Arman terus pandangi wajah orang itu. Satu nama dia ingat.  Ya... orang didepannya bernama Helmi. Tapi Arman masih tidak percaya. Ia pandangi sekali lagi wajah pucat didepannya. Betulkah ini Helmi?, batin Arman. Helmi sang raja lapangan basket. Helmi yang selalu juara. Helmi yang tampan. Helmi yang banyak dikagumi terutama cewek-cewek. Helmi yang anak orang terkaya di sekolahnya. Helmi yang , aaah......disitu Arman menghela nafas panjang. Betulkah...?, Arman masih dengan pertanyaan yang sama, di dalam hati. Arman mengernyitkan dagu. Hati Arman antara senang dan penasaran bertemu  Helmi. Peristiwa demi peristiwa mulai bermunculan. Helmi sahabatnya sekaligus saingannya. Banyak moment bersama Helmi. Suka duka bersama ketika mengharumkan nama almamaternya. Kekompakan dan persahabatan mereka berdua mendapat acungan jempol dari guru – gurunya. Sudah sekian lama mereka tidak bertemu. Sejak lulus SMA mereka melanjutkan kehidupan masing-masing. Tidak ada kontak setelah itu.

Arman masih diam. Arman mengalihkan pandangan dari wajah Helmi. Arman memandang pucuk daun nyiur yang melambai-lambai. Hati Arman meliuk-liuk seperti pucuk daun itu. Arman mengingat masa indah bersama Helmi. Arman dan Helmi sama-sama menjadi bintang lapangan. Kekompakan dalam bermain tidak diragukan lagi. Beberapa kali juara pertandingan basket telah diraihnya. Dimana ada Arman di situ ada Helmi. Suka duka mereka lalui bersama. Seia sekata dalam setiap momennya. Hubungan sahabat yang melebihi saudara. Orang tua merekapun juga sama. Terbawa arus persahabatan keduanya. Terjalin erat persaudaraan dan kekeluargaan.

Arman menggali memorinya lagi. Peristiwa turnamen basket yang naas. Arman mengingat satu peristiwa turnamen.. Hari itu hari terakhir turnamen basket dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Arman dan Helmi termasuk pemain basket andalan di sekolahnya. Pertandingan saat itu memperebutkan juara pertama. Dua team basket sama-sama hebat. Pertandingan berlangsung sangat seru. Masing-masing suporter dengan semangat memberi suport pada teamnya. Seakan gemuruh yang berkepanjangan dalam stadion basket saat itu. Team basket Arman memimpin pertandingan. Salah satu supoortter lawan terbawa emosi karena merasa dikalahkan. Salah satu team suporter lawan melempar botol air mineral ke tengah lapangan. Akhirnya, sreeeet...!!! gedebug...!!!. Suara salah satu pemain basket tergelincir botol mineral itu.

 

Sarkat Day 9, 15/08/2020

SARKAT DAY 9

#KMOindonesia

#KMOBatch 25

#sarapan pagi

#day9

Permainan sementara dihentikan. Para pemain berusaha menolong temannya yang jatuh. Para penonton secara spontan diam. Semua mata tertuju ke tengah arena  basket. Helmi, pemain garda depan jatuh tersungkur. Darah segar mengalir dari hidungnya. Helmi berusaha bangkit, tapi kakinya tidak bisa digerakkan. Injakan kaki Helmi saat melambung tinggi, mengenai botol yang dilempar suporter lawan.  Botol tersebut membuat badan helmi limbung dan jatuh. Gerakan spontan kaki menjadi tumpuan mendarat di lantai. Naas bagi helmi. Darah hitam menyembul di bawah kulit lutut. Membuat lutut helmi lebam seketika. Sakit luar biasa pada lutut Helmi. Helmi di bawa team medis ke rumah sakit. Sementara itu permainan dilanjutkan. Helmi digantikan oleh pemain cadangan. Berkat kegigihan team Arman, akhirnya bisa meraih juara pertama. Piala bergilir tetap bertahan, uang pembinaan dari bapak wali kota sebagai hadiahnya.

Beberaapa hari Helmi harus dirawat di rumah sakit. Hasil pemeriksaan dokter, tempurung lutut Helmi pecah dan kaki betis patah. Sehingga harus dioperasi. Satu minggu kemudian Helmi diperbolehkan pulang. Helmi belum bisa berjalan. Helmi harus memakai kursi roda.

Setiap hari teman-temannya rajin menjenguk Helmi. Termasuk Farah teman dekat Arman. Disinilah awal mula kerenggangan persahabatan Arman dan Helmi. Perhatian Farah yang berlebihan kepada Helmi membuat Arman sedikit  terganggu.   Apalagi beberapa bulan Helmi beristirahat dari aktitasnya sebagai pemain basket. Farah dengan setia menemani Helmi dimanapun berada.

Satu peristiwa yang membuat Arman kecewa. Helmi telah menyakiti hatinya. Helmi telah merebut kebahagiaannya. Helmi telah merebut kehidupannya. Akhirnya Arman melanjutkan kuliah di kota lain. Arman sedikit demi sedikit bisa melupakan peristiwa yang menyakitkan dengan Helmi.

“Arman...!!” panggil Helmi sambil menepuk punda Arman.

“Ya...hmmm...hay...” Arman terkejut

“Sudah ingat aku belum?” Helmi bertanya lagi

Arman tertunduk lesu. Arman masih merasakan sakit di dada bila bertemu Helmi. Sahabat yang menyakiti hatinya.

“Ya...ya ...aku ingat...kamu Helmi kan? Betulkah..?

“Betul shobat, apa kabarmu sudah hampir 10 tahun kita tidak bertemu.”

“Hmmm...” hanya itu jawaban Arman

“Kemana saja kamu selama ini?” tanya Helmi lagi

“Tidak kemana-mana. Memangnya kenapa?” jawab Arman ketus

“Arman aku merasa berdosa padamu, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau...” kata Helmi memelas.

“Ssst...sudah tak usah dibahas...!!” Arman memotong pembicaraan Helmi.

“Arman maafkan aku, kau satu-satunya sahabatku. Aku selalu mencari tahu dimana keberadaanmu. Tapi semuanya tidak tahu. Bahkan orang tuamupun dulu juga tidak memberi tahu. Aku menyesal Arman. Maukah kau memaafkanku Arman?. Tuhan telah membalas  dosa-dosaku padamu. Lihat aku Arman.” kata Helmi dengan iba.

Arman masih diam. Ia permainkan ujung stang motor bu Midah. Arman tidak percaya  kalau ini adalah  Helmi. Wajah yang lebih tua sepuluh tahun kedepan dari umurnya. Pucat layu dan kurus badan Helmi. Angan Arman berbeda dengan yang dilihat.

 

Sarkat Day 10, 16/08/2020

SARKAT DAY 10

#KMOIndonesia

#KMOBatch 25

#sarapankata

#day10

Perlahan Arman menoleh melihat Helmi. Arman melihat sosok di depannya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Apa yang telah terjadi padamu...?” Arman mulai bicara

“Maafkan aku Arman, sekian lama aku memendam rasa bersalah kepadamu. Maukah kau memaafkanku Arman?” pinta Helmi pada Arman

Arman hanya menunduk. Arman ingat kembali peristiwa yang sangat menyakitkan. Arman telah merebut cintanya. Arman telah merebut Farah dari sisinya. Farah, gadis manis bunga sekolahnya. Farah adalah cinta pertama Arman. Saling menjaga sikap, yang membuat banyak orang tidak mengetahui jalinan kasih mereka. Arman yang ketua Rohani Islam di sekolahnya, sangat menghormati wanita. Wanita adalah permata sehingga harus dijaga kemurniannya, itu prinsip Arman pada kekasihnya.

“Armaan...!!, maukah kau memaafkanku?” Helmi kembali menghiba

“Yaa...” jawab Arman singkat.

“Terima kasih Arman....”

Helmi mengambil tangan Arman. Helmi mencium punggung tangan Arman berkali-kali. Arman merasa risih dengan perlakuan Helmi.

“Apaan sih...!!!” kata Arman sambil menarik tangannya.

“Arman, maukah kau juga memaafkan Farah?” tanya Helmi

Helmi memintakan Farah maaf kepada Arman. Farah yang dulu menjadi kekasih Arman, dan sekarang menjadi istrinya.

“Yaa....!!!” jawab Arman singkat.

“Terima kasih Arman, sekali lagi maafkan kami berdua.”

“Maaf Helmi, aku pergi dulu..”

Arman menstater motornya. Arman meninggalkan Helmi yang terbengong-bengong sendirian di pinggir jalan. Helmi merasa bersalah besar pada Arman. Helmi ingin banyak bicara dengan Arman. Sikap Arman yang dingin, membuat Helmi salah tingkah. Helmi menyadari kesalahannya pada Arman. Arman yang kecewa dengannya. Sahabat yang telah mengkhianatinya. Sahabat yang telah merebut kebahagiaannya.

Akhirnya Helmi menstater motornya, untuk melanjutkan perjalanan. Tepat di depan rumah Arman, Helmi berhenti. Helmi berhenti sebentar dipinggir jalan. Helmi mengamati rumah itu. Tidak banyak perubahan. Tetap asri dan nyaman. Bunga-bunga di taman kecil sudut rumah tetap terawat. Walau Arman seorang lelaki, namun sangat menyukai keindahan. Senang menanam bunga dan rajin merawatnya. Di rumah itu dulu Helmi dan Arman sering belajar bersama. Bahkan sesekali Helmi tidur di rumah Arman. Sebaliknya, sesekali Arman tidur di rumah Helmi. Arman dan Helmi sudah seperti saudara. Namun karena kesalahan Helmi, semuanya berakhir. Selepas SMA Helmi harus menikahi Farah. Arman melanjutkan kuliahnya ke kota dan membawa kekecewaan pada sahabatnya. Tidak ada komunikasi apapun sampai pertemuan ini terjadi. Sedangkan Helmi sibuk membangun keluarga. Arman berniat akan ke rumah ini. Farah dan anak-anaknya akan diajak untuk meminta maaf secara kekeluargaan. Helmi ingin mengembalikan persahabatan seperti dulu.

 

Sarkat Day 11, 17/08/2020

SARKAT DAY 11

#KMOIndonesia

#KMOBatch 25

#sarapankata

#day11

 

BAB 3 MOVE ON

SARKAT DAY 11

#KMOIndonesia

#KMOBatch 25

#sarapankata

#day11

Hampir satu jam Arman mengendarai motornya. Arman berhenti sebentar untuk melihat alamat pemilik dompet. Arman mengambil KTP si empu dompet. Arman agak lupa daerah yang dimaksud. Sudah puluhan tahun Arman tidak melihat daerah yang dituju. Kemajuan yang pesat di daerah sepanjang jalan yang dilalui Arman. Banyak gedung besar berdiri. Bahkan mall dan tempat-tempat hiburan modern banyak Arman jumpai. Daerah yang dulu berupa hamparan persawahan, telah berubah menjadi perumahan, mall, dan fasilitas modern lainnya. Arman berdecak kagum. Arman menoleh kekanan kekiri untuk melihat keadaan sekitarnya. Setelah puas melihat keadaan, Arman melanjutkan perjalanannya.

Arman melajukan motornya dengan pelan. Arman masih terngiang kata maaf sahabatnya tadi, Helmi. Rasa marah dan jengkel kepada Helmi masih bersemayam di dadanya. Namun, melihat keadaan Helmi yang pucat dan kelihatan tua, rasa iba Arman mulai muncul. Helmi sahabatnya, dari keluarga terhormat dan kaya. Helmi yang tampan, tinggi, putih, dan atletis beda jauh dari keadaan yang sekarang. Arman terus berpikir. Bagaimana rumah tangga Helmi?. Kerja apa Helmi?. Berapa anak Helmi?. Bagaimana keadaan Farah?. Semua pertanyaan berjubel dalam pikiran Arman. Aaaah....Faraah...!!!. Sampai di situ Arman tidak kuasa membendung air matanya. Arman ingat janji suci yang telah diucapkan bersama Farah. Janji sepasang anak manusia yang ingin mengarungi bahtera rumah tangga. Janji yang sama-sama akan dilaksanakan nanti setelah matang dan masing-masing menyelesaikan belajarnya.

Lagi-lagi Arman mengenang masa lalunya. Arman tak kuasa menahan air matanya yang semakin deras. Arman menghentikan motornya di tepi jalan. Arman turun dari motor dan berjalan menuju sebuah kios toko yang kebetulan tutup. Arman duduk begitu saja dilantai. Kedua kakinya ditekuk ke atas. Arman mendekap kedua lututnya dengan erat. Arman menenggelamkan wajahnya diantara kedua lutut.  Air mata Arman semakin deras. Arman mengusap buliran airmatanya dengan ujung jaket yang dikenakan. Arman teringat kembali masa lalu semasa di SMA. Farah yang cantik menjadi cinta pertamanya. Namun Farah lebih memilih Arman yang lebih kaya dan tampan. Arman menghela nafas panjang. Arman berusaha menghentikan air mata yang terus mengalir. Aah... cemen...!!!, desah Arman lirih. Arman mendongakkan kepalanya. Tidak disadari telah berdiri seorang laki-laki setengah baya di depannya.

 

Sarkat Day 12, 18/08/2020

Pak Burhan, lelaki setengah baya yang berdiri di depan Arman tersenyum tipis. Arman masih  sesenggukan. Arman mengusap matanya. Mata Arman terlihat jelas berwarna  merah. Arman dengan malu-malu membalas senyum Pak Burhan. Tatapan Pak Burhan yang tajam membuat Arman tersipu malu. Pak Burhan dengan wajah yang bijaksana memulai percakapan.

“Assalamualaikum, nak...” sapa Pak Burhan

“Waalaikumsalam, pak...” jawab Arman singkat

“Kalau boleh tahu siapa namamu nak....?” tanya Pak Burhan

“Ya pak...namaku Arman..” jawab Arman

“Nak Arman, maaf nak...ada apakah gerangan kok menangis sehebat itu?” tanya Pak Burhan

“Tidak ada apa-apa pak..., cuma masalah kecil” jawab Arman sambil sesekali mengusap matanya.

“Kalau masalah kecil, mengapa kok nangisnya hebat betul”

Pak Burhan bertanya setengah menyelidik. Arman masih saja mengusap matanya yang bertambah merah. Pak Burhan tahu bahwa masalah yang dihadapi Arman adalah masalah yang berat.

“Nak Arman boleh saya lewat sebentar...!” tanya Pak Burhan sambi menunjuk pintu toko yang masih terkunci.

“Oooh.... silahkan pak...!”

“Nak Arman duduknya gerser sedikit aja...saya akan buka pintu”

“Oooh, bapak yang mempunyai toko ini?”

“Iya naak....” jawab Pak Arman singkat

Arman menggeser duduknya sedikit ke kanan. Pak Burhan membuka kunci pintu. Pak Burhan masuk toko lewat pintu tersebut.

“Nak Arman...kalau tidak keberatan silahkan masuk ke toko kami untuk duduk sebentar...”

“Tidak pak, terima kasih.. saya duduk di luar saja”

“Tidak apa – apa masuklah...minum – minum dulu, menemani bapak...ayuuk..nak...”

Arman dengan agak sungkan menerima tawaran pak Burhan. Arman masuk ke toko pak Burhan. Pandangan Arman ke barang-barang yang dijual pak Burhan. Allahu Akbar...ternyata pak Burhan adalah pedagang alat-alat perlengkapan haji. Barang-barang yang dijual Pak Burhan dalam jumlah yang banyak. Kelihatannya tempat untuk kulakan para pedagang eceran. Arman masih terpesona dengan isi toko.

“Nak Arman, mau minum apa?” Pak Burhan mengaggetkan Arman

“Eh...eeh..bapak..terserah bapak saja..” jawab Arman gelagapan karena kaget.

“Nak Arman suka teh?” tanya Pak Burhan

“Suka bapak...terima kasih” jawab Arman malu-malu

Pak Burhan masuk untuk membuat teh. Sementara Arman melanjutkan melihat-lihat barang dagangan Pak Burhan

 

Sarkat Day 13, 19/08/2020

Arman masih keliling-keliling ruangan toko pak Burhan. Arman melihat sebuah benda yang membuat ia tersentak kaget. Ya Allah... Arman merasa terpukul melihat benda itu. Benda itulah yang telah Arman janjikan kepada bapaknya. Beberapa bulan yang lalu, Arman telah berjanji kepada bapaknya untuk membelikan benda itu beberapa jenis. Masalah Farah telah terlupakan, sekarang ganti masalah lainnya Arman pikirkan. Arman mengingat kembali bapaknya. Tahun ini bapaknya yang telah dipanggil untuk menunaikan ibadah haji ternyata gagal. Panggilan Allah yang lain telah mendahuluinya.  Allah memanggil ayahnya untuk menghadap langsung kehadliratnya. Sampai disitu Arman merasakan kepalanya pusing. Air matanya sudah kering karena terlalu banyak keluar untuk menangisi nasibnya.  Arman memegangi kepalanya. Ataghfirulllaaah hal adziim.... Dunia seakan berputar .... berputar...berputaar...dan bruuuuuk...!!!. Arman tersungkur di dekat benda yang dilihatnya tadi. Arman tidak sadarkan diri. Cicak yang sejak tadi bermain di dinding dekat Arman kaget. Suara cicak  terdengar  lebih keras. Seakan cicak itu memberi tahukan kepada pak Burhan bahwa Arman pingsan. Cicak itu terus berbunyi, bersahut-sahutan dengan temannya.

Sementara itu Pak Burhan membuat teh di dapur toko. Dapur yang kecil namun rapi dan bersih. Air putih dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk membuat teh telah tersedia. Kelihatannya pak Burhan orang yang sangat rapi dan selalu menjaga kebersihan. Hanya beberapa menit pak Burhan sudah selesai membuat teh. Pak Burhan membuka kulkas kecil di sudut dapur. Pak Burhan mengeluarkan sebuah toples kaca dari kulkas. Toples kaca itu ditaruh di nampan bersama air teh. Pak Burhan masuk ruang toko sambil membawa nampan tersebut. Pak Burhan memanggil Arman yang tadi sedang asyik melihat-lihat dagangannya.

“Nak Arman... nak Arman....nak.....!” panggil pak Burhan

Pak Burhan memanggil Arman berulang-ulang. Namun yang dipanggil tidak menyahutnya. Pak Burhan keluar toko, namun tidak menemukan Arman diluar. Pak Burhan masuk ke toko lagi, dan memanggil Arman.

“Nak Arman...nak...” pak Burhan mengulangi panggilannya.

Tidak ada sahutan dari Arman. Pak Burhan mendengar sayup-sayup suara cicak yang ribut. Tidak biasanya cicak-cicak itu bersuara terlalu keras. Pak Burhan bergumam, cicak itu mengapa suaranya terlalu keras?. Biasanya tidak begitu?. Atau karena suasana hening sehingga suaranya terdengar keras?. Pak Burhan bertanya dalam hati, dimana nak Arman? Mengapa meninggalkan begitu saja? Kelihatannya pemuda baik, tapi...kok lari begitu saja...aaah...tak mungkin. Berkecamuk dalam pikiran pak Burhan tentang Arman. Pak Burhan duduk sendiri dan menikmati teh yang dibuatnya tadi.

 

 

Sarkat Day 14, 20/08/2020

Sarkat Day 15, 21/08/2020

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BIMTEK IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERDASAR KURIKULUM (KMA 183 DAN 184) JENJANG MI SECARA VIRTUAL SESI 2